BABI PENDAHULUAN Metode adalah salah satu sarana yang amat penting untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kaitan ini maka studi tafsir Alqurâan tidak lepas dari metode, yakni âsuatu cara yang teratur dan berfikir baik-baik untuk mencapai pemahaman yang benar tentang apa yang dimaksudkan Allah di dalam ayat-ayat Alqurâan yang diturunkankan-Nya
Sayamencoba mendalami literatur dari Ahmadiyah, dari beberapa blogger tentang khataman nabiyyin menurut pemahaman atau pun keyakinan mereka, ternyata ada pemahaman keilmuan yang keliru pengertian dari khataman nabiyyin itu, sehingga menimbulkan sebuah komunitas baru dengan kelompok keagamaan yang mengklaim bahwa Mirza Ghulam Ahmad
Itusebabnya dia yakin tak melawan keyakinan Islam bahwa Muhammad adalah nabi terakhir, atau khataman nabiyyin. Selain Qurâan, dia membaca semua kitab suci. Dia menolak sumber lain, termasuk hadith, yang menurutnya âbanyak dipalsukanâ. Letusan yang terjadi lebih dari 20 jam itu menewaskan lebih dari 3 ribu orang. Setelah itu, Vesuvius
NabiMuhammad SAW* adalah khatamun-nabiyyin. Sesudahnya tidak akan datang nabi lagi, baik nabi lama maupun nabi baru. Satu lambang era baru di Indonesia pada masa itu adalah gugurnya mahasiswa kedokteran Universitas Indonesia, Arif Rahman Hakim mahasiswa kedokter Universitas Indonesia yang menjadi salah satu pahlawan Order Baru konon adalah
Sepertiitu penjelasan definisi sebenarnya dari kata khataman. Semoga dengan ada penjelasan diatas dapat menambah wawasan dan pengetahuan anda mengenai kosa kata tersebut. Tentang. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ini merupakan KBBI Online yang dibuat untuk memudahkan pencarian, penggunaan dan pembacaan arti kata (lema/sub lema).
Vay Tiáťn Trả GĂłp 24 ThĂĄng. KHATAMUN-NABIYYIN Oleh KH. S. Ali Yasir âMuhammad bukanlah ayah salah seorang dari orang-orang lelaki kamu, melainkan dia itu Utusan Allah dan segel penutup para Nabi. Dan Allah senantiasa Yang Maha-tahu akan segala sesuatuâ Berakhirnya Silsilah Jasmani Ayat Suci tersebut menerangkan dua hal yang saling berhubungan, yaitu telah berakhirnya silsilah Nabi Muhammad saw. secara jasmani, dan akan tetap berlangsung terus silsilah rohani beliau sepanjang masa, sebab beliau adalah Utusan Allah yang terakhir. Setiap Utusan adalah bapak rohani bagi misalnya Nabi Musa AS. adalah bapak umat Yahudi, Isa Almasih bapak umat Kristen, Siddharta Gotama bapak umat Budhis, Konghucu bapak umat Konfusianis dan Muhammad saw. adalah bapak umat Islam. Oleh karena itu isteri-isteri beliau disebut pula ibu orang-orang beriman 336 â yakni umat Islam- yang karena itu haram hukumnya dinikahi oleh umat Islam sepeninggal Nabi Suci untuk selama-lamanya 3353, sebagaimana diharamkannya seseorang mengawini ibunya sendiri 423, yakni janda bapaknya. Asbabun-nuzul ayat memperjelas makna firman Allah tersebut. Siti Khadijah memiliki seorang budak lelaki bernama Zaid. Setelah beliau dinikahi oleh Nabi Suci, Zaid dibebaskan, lalu diangkat sebagai anak angkat Nabi Suci. Zaid termasuk lima sahabat pertama. Setelah Hijrah ke Madinah, Nabi Suci mengusulkan agar Siti Zainab binti Jahsy saudara sepupu beliau dinikahkan dengan Zaid. Usul Nabi tersebut diterima, meski bertentangan dengan kehendak Zainab dan keluarganya. Ternyata pernikahan yang tak kafaâah sederajad ini gagal. Zainab rupawan, bangsawan dan masih muda, sedang Zaid berkulit hitam, bekas budak dan jauh lebih tua. Akibatnya âfatalâ bagi Zainab. Dia lebih menderita lagi karena disebut âjanda, bekas istri seorang budakâ suatu status yang hina di masyarakat Arab yang belum bebas dari budaya jahiliah. Cara mengangkat martabatnya tiada lain adalah Nabi Suci mengawini beliau, tetapi Nabi Suci takut akan dampak negatifnya, yakni fitnah, pelecehan dan penodaan nama baik beliau, sebab menurut tradisi jahiliyah kedudukan anak angkat sama dengan anak kandung; mengawini janda anak angkat sama dengan mengawini janda anak kandung. Atas petunjuk Allah Nabi Suci menikahi Zainab 3337. Dengan demikian Siti Zainab terangkat derajatnya, karena perkawinan itu beliau menduduki tempat mulia, baik dimata Allah maupun mata manusia, yakni sebagai ibu orang beriman. Tetapi orang-orang kafir dan munafik -yang secara rohani adalah tuli, bisu dan buta 218- memaki dan menghina Nabi Suci saw. dengan tuduhan telah mengawini menantunya sendiri. Caci maki dan penghinaan yang berlangsung terus sampai sekarang ini ditangkis Ilahi dengan turunnya ayat suci 3340 di atas. Penegasan âMuhammad bukanlah ayah salah seorang dari orang-orang 1elaki kamuâ berarti Zaid bukanlah anak Nabi Suci Muhammad saw. tetapi anak Haritsah. Sejak saat itu, Zaid dipanggil anak Haritsah, sesuai dengan syariat Islam yang menganjurkan agar memanggil seseorang itu dengan menyebut ayah kandungnya 335, bukan ayah angkatnya; sebab kedudukan anak angkat tidak sama dengan anak kandung 334. Silsilah Rohani Abadi Terputusnya silsilah jasmani Nabi Suci seakan-akan merupakan suatu cacat, maka orang-orang kafir mengejek beliau dengan sebutan abtar terputus, tetapi Qurâan Suci justru menyebut orang-orang kafirlah yang abtar 1083. Turunnya ayat 33 40 tersebut menjawab ejekan kaum kafir tersebut, karena menyatakan bahwa âMuhammad⌠⌠⌠dia itu Utusan Allahâ. Seorang utusan Allah adalah bapak rohani bagi umatnya. Hubungan rohani nilainya lebih baik dan mulia daripada hubungan jasmani, maka dari itu âNabi itu lebih dekat pada kaum mukmin daripada diri mereka sendiriâ 336. Sejarah menjadi saksi tatkala ayat ini diturunkan anak-anak rohani Rasulullah saw., telah berjumlah ratusan ribu jiwa sekarang tidak kurang dari 1,3 milyar â sedang kaum kafir telah terputus dan benar-benar terputus, karena anak-anak mereka telah menjadi anak-anak rohani Nabi Suci yang prosesinya dinyatakan dalam 1101-3. Kebapakan rohani Nabi Suci tak berakhir, berlangsung terus sampai hari Kiamat, sebab beliau sdalah Khatamun-Nabiyyin artinya segel penutup para Nabi, sesudah beliau tak akan datang Nabi lagi, baik Nabi lama ataupun Nabi baru. Jadi silsilah jasmani beliau terputus-karena tak beranak lelaki tetapi silsilah rohani abadi dikaruniakan kepada diri beliau. Sebab beliau segel penutup para nabi. Disinilah salah satu keagungan beliau dibanding dengan para Nabi sebelumnya yang silsilah rohaninya hanya berlangsung untuk sementara waktu saja 1338-39, misalnya Nuh hidup di tengah-tengah kaumnya selama alfa sanatin illa khamsina ama seribu tahun kurang lima puluh tahun alias 950 tahun 29l4. Ini umur kenabian atau syariatnya, bukan umur pribadi orangnya. Arti Khatamun-Nabiyyin Berakhirnya kenabian pada diri Nabi Suci Muhammad saw. dinyatakan dengan kata âkhatamâ yang bisa dibaca âkhatimâ seperti tertulis dalam Mushaf menurut riwayat Warsy dari Nafiâal- Madani. Antara keduanya ada perbedaan. Kata khatam berarti segel atau bagian terakhir atau penutup digabung dengan kesempurnaan wahyu kenabian dan pelestarian penganugerahan nikmat Ilahi 53; maka dari itu Nabi Muhammad saw. adalah yang paling mulia diantara semua nabi. Jadi kata khatam mengandung arti ganda yakni âyang paling muliaâ dan âbagian terakhirâ atau âpenutupâ. Sedang kata khatim artinya bagian terakhir atau penutup; maka dari itu Nabi Muhammad saw. adalah penutup para Nabi, yang dipertegas oleh Nabi Suci âla nabiyya baâdiâ artinya âtak ada Nabi sesudahkuâ Hr. Bukhari. Menurut Imam Zaman Hazrat Mirza Ghulam Ahmad Kedua arti tersebut diterima sebagai kebenaran oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, sebagaimana dinyatakan dalam tulisan-tulisan beliau antara lain sbb âAdam, diciptakan dan Rasul-rasul diutus, setelah semuanya, Nabi Muhammad saw. diciptakan yang menjadi segel penutup para Nabi dan yang paling utama dari sekalian NabiâHaqiqatul-Wahyi, 1907, Kemuliaan Nabi Suci atas semua Nabi telah berulangkali beliau tulis dalam berbagai buku dan selebaran, juga beliau sampaikan secara lisan dalam berbagai khotbah dan perdebatan. Demikian pula tentang berakhinya kenabian pada diri Nabi Suci Muhammad saw. Pernyataan beliau antara lain sebagai berikut âKarena semua itu kenabian berakhir pada Nabi Suci saw. dan begitulah senantiasa, sesuatu yang ada awalnya pasti ada akhirnyaâ Al-Washiyyat, hlm. 10. Jika menjelaskan berakhirnya kenabian pada diri Nabi Suci saw. seringkali beliau tambahkan kalimat âsesudah beliau tak akan datang Nabi lagi, baik nabi lama ataupun Nabi baruâ misalnya dalam Ayyamush-Shulh 1989 sbb âAllah hersabda Ia adalah Utusan Allah dan Khataman Nabiyyinâ. Dan itu dalam Hadits Tak ada Nabi sesudahkuââŚâŚ.Bila Nabi lainnya datang, apakah itu Nabi baru atau lama, bagaimana mungkin Nabi Suci kita sebagai Khataman-Nabiyyin?â dari Ruhani Khazaâin jilid 14, hlm 308-309. Pada halaman berikunya beliau tulis sbbâDengan menyatakan Tidak ada Nabi sesudahkuâ Nabi Suci menutup pintu secara mutlak kepada datangnya seorang Nabi baru atau datang kembalinya seorang Nabi lamaâ Ibid, hlm. 400. Penegak Akidah Dari anak kalimat âSesudah beliau tak akan datang Nabi lagi, baik Nabi lama ataupun Nabi baruâ tersebut mengandung petunjuk bahwa beliau adalah penegak akidah berakhirnya kenabian secara mutlak pada diri Nabi Suci Muhammad saw. secara syarâi. Tanpa anak kalimat tersebut doktrin Islam Khatamun-Nabiyyin yang menjadi landasan kesatuan umat manusia menjadi kelabu dan mengganggu kesatuan umat manusia, termasuk antar golongan umat Islam. Mengapa? Karena umat Islam terjebak pada dua pendapat ekstrim yang saling berlawanan dalam memahami teks profetik-eskatologik yang sama, yakni tentang datangnya Nabiyullah Isa dalam Hadits riwayat Imam Muslim dari sahabat Nawwas bin Samâan. Pada umumnya para ulama Islam penentang Hazrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai Mahdi dan Masih Mauâud -termasuk MUI- berpendapat bahwa, setelah Nabi Suci saw. akan datang seorang Nabi lama, yaitu Nabi Isa dari bani Israel yang dilahirkan oleh Siti Maryam sekitar dua ribu tahun yang lalu, yang sekarang mereka yakini masih hidup, di langit; kedatangan beliau untuk melaksanakan syariat Nabi Muhammad saw. Jadi kedatangannya sebagai Nabi tanpa syariat. Pendapat ini muncul karena teks âNabiyullah Isaâ mereka pahami secara hakiki, baik kata nabiyullah maupun nama Isa. Maka dari itu beliau bertanya Apakah mereka tidak tahu bahwa sesungguhnya Allah SWT. telah menetapkan Nabi Muhammad saw. sebagai Khatamul-Anbiyaâ tanpa perkecualianâ Hamamatul-Busyra, hlm. 20. Jawaban mereka biasanya âNabi Isa pengangkatannya sebelum Nabi Suci saw. dan kedatangannya hanyalah untuk menegakkan syariat Nabi Suciâ. Mereka memelintir pokok masalah, dari masalah ada atau datangnya, seorang Nabi dialihkan kepada masalah pengangkatan kenabian. Doktrin berakhirnya kenabian menjadi kelabu, meski mereka teriak-teriak qathiâi. Teriakan mereka tidak memperjelas pokok masalah, tetapi justru menambah kelabunya pokok masalah, karena mengundang keresahan dan kekisruhan, bahkan sering melahirkan perbuatan anarkis. Selain penentang Masih Mauâud dari sebagian pengikut beliau pun ada pula yang berpendapat bahwa beliau seorang Nabi tanpa syariat, seperti halnya pendapat para penentang beliau. Hanya bedanya, yang datang setelah Nabi Suci adalah Nabi baru, bukan Nabi lama Isa Almasih, sebab beliau telah wafat. Pendapat ini muncul sebab teks profetik-eskatologik Nabiyullah mereka pahami secara hakiki, sedang nama Isa secara majasi. Jadi Hazrat Mirza Ghulam Ahmad adalah Isa majasi, beliau seorang nabi hakiki tetapi tanpa syariâat. Di sinilah sumber pertentangannya, padakata Isa, jika dipahami secara hakiki menunjuk Nabi lama dan jika dipahami secara majasi menunjuk Nabi baru. Diantara dua pendapat saling berlawanan itu mengandung petunjuk bahwa salah satu benar yang lain salah atau kedua-duanya terakhir itu yang benar, yakni keduanya salah. Benarnya bagaimana? Benarnya sbb kata Nabiyyullah dipahami secara majasi demikian pula nama Isa, juga dipahami secara majasi. Mengapa harus dipahami secara majasi? Sebab teks itu suatu profetik atau nubuat. Dengan cara demikian mereka yang menolak boleh saja disebut sesat tetapi tidak sampai kafir atau murtad, sebab keduanya masih mengimani profetik -eskatologik itu dan disamping itu kalimat syahadat yang diucapkan oleh kedua golongan itu menjadikan mereka sebagai anak-anak Muhammad sang Khatamun-Nabiyyin. Inilah ajaran Hazrat Mirza Ghulam Ahmad yang sejati, yang dipegang teguh oleh pengikut beliau kaum Muslim Ahmadi Lahore. Belum saatnyakah umat Islam bersatu? KH. S. Ali Yasir. Beri peringkat Filed under Islamologi Tagged Studi Islam
Umat Islam, tanpa kecuali, beriman dan berkeyakinan tanpa ragu-ragu, bahwa Nabi Suci Muhammad adalah khâtamun NabiyyĂŽn. Akan tetapi arti dan tafsirnya berbeda pendapat. Frase khâtamun-nabiyyĂŽn termaktub dalam Quran Suci 3340. Frase ini terdiri dari dua kata, yaitu khâtam dan an-nabiyyin artinya nabi-nabi. Kata khâtam berasal dari akar kata khatama, yakhtumu, khatman makna aslinya mencap, memeterai, menyegel, menyudahi, mensahkan atau mencetakkan pada suatu barang artinya cincin meterai atau cincin stempel, segel atau bagian terakhir dari sutau barang, seperti dalam ungkapan khâtamul-qaum selalu berarti kaum yang terakhir-âkhiruhum Lane & TajudâArus; kata dalam ayat tersebut dapat dibaca khâtam atau khâtim artinya segel atau bagian terakhir. Jadi kata khâtaman-nabiyyĂŽn artinya 1 penutup nabi-nabi; 2 meterai sekalian nabi, dan 3 segel penutup para nabi. Penutup nabi-nabi. Arti pertama ini antara lain digunakan oleh Al-Quran dan Tafsirnya Departemen Agama RI dan para mufassir umumnya maksudnya, sesudah Nabi Suci Muhammad saw âTak ada Nabi lagi setelah beliauâ yang diangkat oleh Allah, karena pada halaman lain diterangkan akan datangnya para nabi terdahulu, yakni nabi-nabi yang pengangkatannya sebelum Nabi Suci Muhammad saw diutus 570-632 M, seperti Nabiyullah Isa ibn Maryam dari bangsa Israel. Banyak para ulama yang meyakini Nabi Isa as akan datang atau turun ke dunia pada zaman akhir nanti sebagai tanda akan terjadinya Kiamat; beliau sekarang menurut Majelis Ulama Indonesia MUI dalam Penjelasan Fatwa MUI 2005 masih hidup di langit seperti yang diyakini oleh umat Kristen. Keyakinan ini dijustifikasi dengan ayat-ayat Quran Suci, antara lain ayat 4158 yang tafsirnya sebagai berikut âDalam ayat ini Allah menerangkan bahwa Nabi Isa as itu diangkat atas perintah Allah oleh keempat malaikat ke langit ketiga dengan badan dan rohnya dan akan diturunkan kembali diakhir zaman sebagai pembela umat Islam dan penerus syariat Nabi Muhammad saw pada saat umat Islam berada dalam keadaan kelemahan setelah datangnya Dajjal. Dan kejadian ini menunjukkan atas kekuasaan Allah untuk menyelamatkan Nabi-Nya, sesuai dengan kebijaksanaan-Nya yang tercantum dalam firman Allah âIngatlah ketika Allah berfirman âHai Isa sesungguhnya Aku akan menyampaikan kepada kamu kepada akhir ajalmu, dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafirâŚ355â Al-Quran dan Tafsirnya, Jilid II, hlm 347. Dari uraian tersebut jelaslah bahwa menurut jumhur ulama setelah Nabi Suci Muhammad saw akan datang seorang nabi lama dari bangsa Israel yang kedatangannya tanpa syariat, sebab beliau âditurunkan kembali di akhir zaman sebagai pembela umat Islam dan penerus syariat Nabi Muhammad sawâ. Kerancuan ini terjadi karena berpegang kepada arti harfiah kata rafaâa dan nazala Isa ibn Maryam dalam Quran Suci dan Hadits Nabi tentang profetik-eskatologk. Israeliat dan Nashrasiat juga mempengaruhi mereka. Menurut dogma Kristen Yesus Kristus terangkat ke Sorga, duduk disebelah kanan Allah dan akan turun ke dunia untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati Pengakuan Iman Rasuli ke 6 dan 7. Meterai sekalian nabi. Arti kedua ini menurut Ahmadiyah Qadiani, sebagaimana tertulis dalam Alquran dengan Terjemah dan Tafsir Singkat. Dijelaskan, bahwa âungkapan Khataman-Nabiyyin dapat mempunyai kemungkinan empat macam arti 1 Rasulullah saw adalah meterai para nabi, yakni, tiada nabi dapat dianggap benar, kalau semua nabi yang sudah lampau harus dikuatkan dan disahkan oleh Rasulullah saw dan juga tiada seorangpun yang dapat mencapai tingkat kenabian sesudah beliau, kecuali dengan menjadi pengikut beliau. 2 Rasulullah saw adalah yang terbaik, termulia dan paling sempurna dari antara semua nabi dan juga beliau adalah sumber hiasan bagi mereka Zurqoni, Syarah Mawahib al-Laduniyah. 3 Rasulullah saw adalah yang terakhir diantara para nabi pembawa syariat. Penafsiran ini telah diterima oleh para ulama terkemuka, orang-orang suci dan waliyullah seperti Ibn Arabi, Syah waliyullah, Imam Ali Qariâ, Mujaddid Alfi Tsani, dan lain-lain⌠4 Rasululah saw adalah nabi yang terakahir Ăkhirul-Anbiyââ hanya dalam arti kata, bahwa semua nilai dan sifat kenabian terjelma dengan sesempurna-sempurnanya dan selengkap-lengkapnya dalam diri beliau; khâtam dalam arti sebutan terakhir untuk menggambarkan kebagusan dan kesempurnaan, adalah lazim dipakaiâ Tafsir no. 2359. Dari uraian tersebut terang sekali, bahwa Nabi Suci Muhammad saw bukanlah penutup nabi-nabi, karena Nabi Suci hanyalah âyang terakhir diantara para Nabi pembawa syariatâ dan âkhatam dalam arti sebutan terakhir untuk menggambarkan kebagusan kesempurnaan adalah lazim dipakaiâ, contohnya dikemukakan pada buku-buku yang lain; dijelaskan bahwa ungkapan Khâtamun-NabiyyĂŽn adalah âMurakkab Idhafiâ, karena kata khâtam adalah mudhâf dan an-nabiyyĂŽn adalah mudhafilaih bentuk jamak, seperti syuâarâ, auliyaâ, muhâjirĂŽn, dan lain-lain; kata khâtam artinya kelebihan, keagungan dan kesempurnaan, seperti Abu Tamam, seorang penyair dikatakan khâtamusy-syuâarââ, Sayidina Ali dan Ibnu Arabi dikatakan khâtamul-auliyââ, Ibn Abbas disebut khâtamul-muhâjirĂŽn, dan lain-lain. Di samping itu masih ditopang dengan alasan-alasan linguistik yang digunakan terlalu ketat terhadap Quran Suci dan Hadits Nabi yang ujung-ujungnya untuk dalil menabikan seseorang dan juga melahirkan pendapat bahwa pangkat dan jabatan kenabian dapat diminta dan diusahakan oleh manusia. Khâtamun-NabiyyĂŽn dalam âpenutup nabi-nabiâ mereka tolak. Dengan demikian setelah Nabi Suci Muhammad saw pintu kenabian tetap terbuka tidak tertutup, tetapi yang akan datang adalah nabi tanpa syarait, seperti yang dikemukakan oleh Muhyiddin ibnu Arabi atau seperti yang dipahami oleh para ahli sufi. Di sini juga terjadi kerancuan seperti pendapat pertama. Hanya bedanya, pendapat pertama tak mengenal istilah sufi, segala sesuatunya hanya didasarkan atas istilah sufi; sedang penadpat yang kedua tak membedakan antara istilah sufi dengan istilah syarâi. Memang pada zaman Nabi Suci antara keduanya belum dibedakan. Pembedaan terjadi dikemudian hari pasca Nabi Suci sebagai manifestasi penjagaan keaslian Quran Suci 159 secara maknawi atau rohani. Oleh karena itu kedua pendapat tersebut selalu bertentangan, tak dapat dipertemukan. Hal ini membuktikan bahwa keduanya salah. Kesalahpahaman karena sama-sama meyakini akan datangnya seorang Nabi tanpa syariat setelah Nabi Suci Muhammad saw. Hanya bedanya, menurut pendapat pertama yang akan datang adalah seorang Nabi lama, yaitu Nabiyullah Isa ibnu Maryam dari Bani Israel yang sampai sekarang belum datang masih hidup di langit; sedang menurut pendapat keduanya, yang datang adalah nabi baruâbukan nabi lama, karena mereka telah wafat, termasuk Nabiyulah Isa ibn Maryam yang kini telah datang, yaitu Hazrat Mirza Ghulam Ahmad Alqadiyani 1835-1908. Menurut mereka, beliau adalah seorang Nabi tanpa syariat seperti halnya Yahya, Zakaria, Isa Almasih, dan sebagainya. Jadi menurut pendapat pertama Khatamun-NabiyyĂŽn itu dalam arti penutup nabi-nabi hanya dalam arti pengangkatan saja, bukan kedatangannya. Maka dari itu selian Nabi Isa ada Nabi-nabi lain yang sekarang dianggap masih hidup, yaitu Nabi Idris, Nabi Khidhir dan Nabi Ilyas. Segel penutup para nabi. Arti ketiga ini dikemukakan oleh Maulana Muhammad Ali dalam tafsirnya The Holy Qurâan sebagai penerus Hazrat Mirza Ghulam Ahmad. Beliau terangkan, âKata khâtam berarti segel atau bagian terakhir dari suatu barang; yang tersebut belakangan adalah makna asli dari kata khâtimâ. Lebih lanjut beliau jelaskan âWalaupun umum mengakui bahwa Nabi Suci adalah kesudahan para Nabi, bahkan sejarahpun menerangkan bahwa setelah beliau tak ada Nabi lagi yang muncul, namun Quran menggunakan kata khâtam, bukan khatim, karena kata segel para Nabi mengandung arti yang lebih dalam daripada kata penutup para Nabi. Sebenarnya kata khatam mengandung arti penutup yang digabung dengan kesempurnaan wahyu kenabian, bersamaan pula dengan kelestarian penganugerahan sesuatu wahyu kenabian di kalangan para pengikut Nabi Suciâ. Menurut beliau âTugas para Nabi hanyalah memimpin manusia, baik dengan memberi hukum syariat maupun membersihkan hukum syariat yang sudah ada dari segala macam ketidaksempurnaan atau dengan memberi petunjuk baru yang memenuhi kebutuhan zaman, karena keadaan masyarakat pada zaman dahulu tak memerlukan diturunkannya wahyu tentang undang-undang yang sempurna selaras dengan keperluan berbagai macam generasi dan berbagai tempat. Oleh sebab itu, Nabi-nabi senantiasa dibangkitkan. Tetapi dengan datangnya Nabi Suci, diturunkanlah undang-undang yang sempurna, yang cocok dengan keperluan segala zaman dan daerah, dan undang-undang ini dijamin keselamatannya dari segala macam kerusakan, dan oleh karena itu tak diperlukan lagi jabatan kenabianâ. Masih beliau lengkapi âTetapi ini tidaklah berarti, bahwa nikmat Tuhan yang dianugerahkan kepada hambaNya yang terpilih, tak dianugerahkan kepada orang yang terpilih diantara kaum Muslimin. Orang tak memerlukan lagi syariat baru, karena mereka telah mempunyai syariat yang sempurna, tetapi mereka masih tetap memerlukan turunnya nikmat Tuhan. Nikmat Tuhan yang paling tinggi ialah Wahyu; dan Islam mengakui bahwa sekarangpun Tuhan bersabda kepada hamba-Nya yang terpilih, sebagaimana Allah dahulu bersabda, tetapi orang yang diberi sabda itu bukan Nabi dalam arti kata yang sesungguhnyaâ. Tafsir no. 1994. Dari uraian tersebut teranglah, bahwa Nabi Suci sebagai Khâtamun-NabiyyĂŽn dalam arti segel penutup para nabi, arti ini mengandung dua aspek, yaitu kesempurnaan bergabung dengan akhir kenabian. Kesempurnaannya, karena karya yang dilaksanakan oleh para Nabi terdahulu sesudah beliau dilestarikan oleh umat Islam untuk selamanya dengan keberkatan beliau mereka dapat mencapai pangkat atau maqam seperti para Nabi terdahulu, sebagaimana dinyatakan oleh Nabi Suci âulama-ulama umatku seperti para nabi Israelâ. Sedang berakhirnya kenabian pada diri Nabi Suci, karena sesudah beliau tidak akan datang Nabi lagi, baik nabi lama ataupun nabi baru, sebagaimana ditegaskan oleh Nabi Suci âTak ada Nabi sesudahkuâ. Jadi yang telah diakhiri atau ditutup, tak dibuka lagi adalah jabatan kenabian, bukan pangkat atau maqam kenabian yang secara sufiyah disebut nabi tanpa syariat, nabi buruzi, nabi zhilli, nabi ummati, nabi majasi, nabi juzâi dan nabi ghairu mustaqil yang secara syarâi bukan nabi; istilah nabi secara syarâi dalam istilah sufi oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad disebut nabi tasyriâ, nabi hakiki, nabi mustaqil, dan nabi tammah. Oleh karena hanya pangkat atau maqam yang dapat dicapai oleh orang-orang tertentu, maka selain data diupayakan juga boleh dimohon, bahkan dianjurkan agar umat Islam memohonnya 406 yang isi permohonannya diterangkan dalam tiga ayat terakhir Surat Alfatihah. Nabi Suci bersabda âTak ada lagi wahyu kenabian kecuali mubasysyarât kabar baikâ. Dan tatkala beliau ditanya âApakah mubasysyarat itu?â Beliau menjawab âImpian yang baikâ Bukhari. Hadits lain meriwayatkan âImpian serang mukmin adalah seperempat puluh enam bagian dari wahyu kenabianâ Bukhari. Jadi wahyu kenabian tiada lagi, tetapi sebagian dari wahyu kenabian tetap ada, dan akan tetap dikaruniakan selama-lamanya dikalangan pengikut Nabi Suci sebagaimana dinyatakan dalam Quran Suci 469-70. Arti signifikan Khâtamun-NabiyyĂŽn. Ayat Khâtamun-NabiyyĂŽn selengkapnya sebagai berikut âMuhammad bukanlah ayah salah seorang dari orang laki-laki kamu, melainkan dia itu Utusan Allah dan segel penutup nabi-nabi. Dan Allah senantiasa Yang Maha-tahu akan segala sesuatuâ 3340. Ada tiga hal yang disebutkan dalam ayat ini 1 Muhammad saw bukanlah ayah seorang lelaki diantara umat Islam, 2 beliau seorang Utusan Allah, dan 3 beliau adalah segel penutup nabi-nabi. Hubungan antara ketiganya sebagai berikut Karena silsilah berlanjut dari laki-laki, bukan dari keturunan perempuan, maka Muhammad bukanlah ayah salah seorang dari laki-laki kamu, berarti keturunan secara jasmani Muhammad saw telah terputus, tetapi secara rohani beliau adalah bapak segenap umat Islam, sebab beliau adalah Utusan Allahâpara Nabi Utusan Allah adalah bapak rohani umatnyaâdan kebapakan beliau berlangsung terus, tak berkesudahan, sebab beliau adalah segel penutup nabi-nabi. Di sinilah arti signifikannya Khâtamun-NabiyyĂŽn dalam arti akhir para nabi, sesudah beliau tak akan datang nabi lagi, baik nabi lama ataupun nabi baru. Jika datang nabi baru garis keturunan spiritual dari nabi sebelumnya terutus, beralih kepada nabi baru. Jika secara lahiriah seorang anak mempunyai kemiripan wajah, penampilan, bakat, karakter, dan sifat-sifat bapaknya, demikian pula secara rohani seseorang yang taat dan patuh mengikuti seseorang Utusan Allah ia dapat menjadi mirip seperti beliau yang menjadi bapak rohaninya, misalnya kemiripan kaum Yahudi dengan Musa, kemiripan kaum Kristiani dengan Isa Almasih Yesus Kristus, kemiripan kaum Budhis dengan Siddharta Gotama, kemiripan kaum Hindu dengan Sri Krisna, dan sebagainya yang semua itu sekarang berlangsng terus dan data dicapai oleh anak-anak rohani Muhammad saw berkat ketaatan yang sempurna terhadap diri beliau sebagai Khâtamun-NabiyyĂŽn. Ingat, mereka hanyalah sebagai bayangan zhill dan penampakan buruzi beliau saja, bukan Nabi, sebab ânabi-nabi itu bersaudara, ibu mereka berbeda tetapi agamanya satuâ Misykat. Para Nabi itu yang pertama dalam Adam dan yang terakhir adalah Muhammad saw, semuanya bapak rohani umatnya masing-masing. Demikianlah arti signifikan ayat Khâtamun-NabiyĂŽn yang diturunkan setelah Ibrahim putra Nabi Suci wafat dan setelah beliau menikahi Siti Zainab di bawah wahyu Ilahi 3337-38, maksud ayat suci itu bukan hanya sekedar menjelaskan kedudukan anak angkat secara hukum tidak sama dengan anak kandung, dan bukan pula hanya sekedar membantah tuduhan kaum kafir, bahwa beliau abtar, terputus silsilahnya karena tak punya anak laki-laki saja, melainkan Dia telah menjadikan beliau sebagai Utusan Allah atau bapak rohani segenap umat Islam dan kebapakan beliau tak akan pernah terputus, sebab beliau Nabi terakhir. Jadi ayat ini memberi tahu dunia, bahwa keturunan lahiriah dan hubungan kekerabatan jasmaniah itu tiada nilanya dihadapan Tuhan, maka ditegaskan âMuhammad bukanlah ayah salah seorang dari orang laki-laki kamuâ. Dengan demikian akidah tentang Imamah atau Imarah syaratnya Quraisyiyah atau Ahlul-Bait baca Alawiyah bertentangan dengan asas Quran yang telah menetapkan Nabi Suci sebagai Nabi terakhir, sehingga silsilah rohaniah yang nilainya jauh lebih tinggi daripada silsilah jasmaniah, tak akan terputus di dunia. Di samping itu juga merupakan kabar baik bagi dunia, bahwa kenikmatan yang dinugerahkan kepada para Nabi terdahulu akan terus lestari dianugerahkan kepada siapapun, asal menjadi pengikut beliau dengan tulus yang sejatinya ia tak meninggalkan Nabi terdahulu yang menjadi ikutannya, sebab kedatangan para Nabi itu hanyalah mempersiapkan umatnya masing-masing agar menerima beliau 391. Misalnya umat Kristen untuk menjadi âanak Allahâ seperti Yesus Yoh 1033-36 jalannya bukanlah mengikuti ajaran dan keteladanan Yesus dalam Injil, sebab Injil yang ada sekarang dalam Perjanjian Baru bukanlah âInjil Yesusâ atau âInjil dari Yesusâ akan tetapi hanya âInjil tentang Yesus KristusâMrk 11. Oleh karena itu siapapun dapat menulisnya, bukan monopoli Matius, Markus, Lukas, Yohanes dan Paulus saja, tetapi juga siapapun yang mau demi ekspresi imannya. Jalan untuk menjadi âanak-anak Allahâ Mat 59 melalui âInjil tentang Yesusâ terhalang, akan tetapi terbuka lebar melalui Quran Suci yang keasliannya terjaga 159 dengan jalan mengikuti ajaran dan teladan Nabi Suci Muhammad saw. Sebagai Khâtamun-NabiyyĂŽn dalam diri beliau terkumpul semua sifat nabi-nabi terdahulu, seperti keperwiraan Musa, kebijakan Yoshua, keberanian Daud, kemegahan Sulaiman, kesabaran Ayub, kesederhanaan Yahya, keugaharian Isa Almasih, kezuhudan Siddharta Gotama, dan sebagainya sebagaimana dalam Quran Suci terdapat Kitab-kitab Suci terdahulu yang benar 982-3. Penggunaan kata khâtam. Kata khatam memiliki bermacam-macam arti yang inti pengertiannya berkaitan erat dengan keabsahan surat-surat. Penggunaannya sejak masa Nabi Suci, bahkan sejak sebelum beliau, karena khâtam dalam arti cincin stempel merupakan salah satu atribut raja sebagai tanda kebesaran dan kemegahan. Raja dapat membubuhkan khâtam pada bagian akhir surat dengan tinta. Diceritakan bahwa ketika Nabi Suci hendak mengirim surat dakwah kepada para penguasa disekitar Jazirah Arab. Kepada Nabi Suci diinformasikan, bahwa raja-raja non Arab ajam hanya mau menerima surat-surat yang diberi khâtam. Maka Nabi Suci membuat khâtam cincin stempel dari bahan perak berukirkan âMuhammad Rasulullahâ. Penggunaan khâtam itu diteruskan oleh Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan juga para khalifah Bani Umayah dan Bani Abbasiyah. Setiap orang yang memangku jabatan khalifah memiliki khâtam. Didalamnya tak diukirkan nama khalifah, tetapi diukirkan kata-kata hikmah atau slogan, misalnya khâtam Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali masing-masing diukirkan kata-kata Niâmatul-Qâdirillâh yang Maha-kuasa Yang paling baik adalah Allah, Kafâbil-manti Waâizham Yâ Umar Cukuplah kematian menjadi peringatan bagimu, Latashbiranna an latan damanna Engkau bersabar atau menyesal dan Al-Mulku lillâh Kekuasaan hanya bagi Allah. Khatam juga berarti akhir. Maksudnya, tulisan yang telah diberi khatam itu benar dan sah atau penulisan surat sudah selesai dan lengkap dengan diberinya khâtam. Dengan demikian frase khâtamun-nabiyĂŽn artinya âsegel penutup para nabiâ dan arti ini yang lebih mendekati kebenaran dibanding arti-arti lainnya, karena mengandung dua aspek yaitu kesempurnaan bergabung dengan akhir kenabian. Jadi Nabi Suci Muhammad saw adalah Nabi yang sempurna atau yang terbesar dan terakhir kedatangannya, sebab sesudah beliau tak akan datang Nabi lagi, baik Nabi lama ataupun Nabi baru.[] This entry was posted on 16/10/2017, 513 am and is filed under ENSIKLOPEDI. You can follow any responses to this entry through RSS You can leave a response, or trackback from your own site.
Nabi Muhammad saw. sebagai khatamun nabiyyin, arti kata khataman nabiyyin adalah? Penutup para malaikat Penutup untuk para nabi Penutup para penghulu Utusan nabi terakhir Utusan terakhir Jawaban yang benar adalah B. Penutup untuk para nabi. Dilansir dari Ensiklopedia, nabi muhammad saw. sebagai khatamun nabiyyin, arti kata khataman nabiyyin adalah Penutup untuk para nabi. Pembahasan dan Penjelasan Menurut saya jawaban A. Penutup para malaikat adalah jawaban yang kurang tepat, karena sudah terlihat jelas antara pertanyaan dan jawaban tidak nyambung sama sekali. Menurut saya jawaban B. Penutup untuk para nabi adalah jawaban yang paling benar, bisa dibuktikan dari buku bacaan dan informasi yang ada di google. Menurut saya jawaban C. Penutup para penghulu adalah jawaban salah, karena jawaban tersebut lebih tepat kalau dipakai untuk pertanyaan lain. Menurut saya jawaban D. Utusan nabi terakhir adalah jawaban salah, karena jawaban tersebut sudah melenceng dari apa yang ditanyakan. Menurut saya jawaban E. Utusan terakhir adalah jawaban salah, karena setelah saya coba cari di google, jawaban ini lebih cocok untuk pertanyaan lain. Kesimpulan Dari penjelasan dan pembahasan serta pilihan diatas, saya bisa menyimpulkan bahwa jawaban yang paling benar adalah B. Penutup untuk para nabi. Jika anda masih punya pertanyaan lain atau ingin menanyakan sesuatu bisa tulis di kolom kometar dibawah.
Masroor Library â Keberatan yang dilontarkan kepada Jemaat adalah bahwa Jemaat tidak meyakini Nabi Muhammad Rasulullah SAW sebagai Khataman Nabiyyiin. Ingatlah bahwa anggapan ini adalah keliru, Jemaat Ahmadiyah meyakini dan berakidah bahwa Hazrat Muhammad Rasulullah SAW adalah Khataman Nabiyyiin dan kami meyakini sepenuhnya kepada Khataman Nabiyyiin beliau saw. Kaum kuffar Makkah sering mengolok-olok Rasulullah saw naâudzubillah bahwa katanya Huzur saw tidak memiliki anak dan mereka lontarkan itu sebagai olok-olokan bagi Rasulullah saw. Allah Taâala berfirman dalam al-Quran Karim bahwa memang benar Muhammad bukanlah bapak salah seorang laki-laki di antara kamu melainkan Rasul Allah dan Khaataman Nabiyyiin. Ingatlah bahwa kaum kuffar pun senantiassa mengolok-olok dan Allah Taâala senantiasa menjawab olok-olokan mereka. Ketika suatu keberatan itu dijawab maka jawabannya itu adalah dijelaskan keafdolan beliau saw; Inilah olok-olok yang kalian berikan padahal maqom orang ini begitu luar biasanya. Kita harus menterjemahkan ayat ini dengan memperhatikan latar belakang turunnya ayat ini. Terjemahnya adalah; âMemang benar bahwa Muhammad bukanlah bapak salah seorang laki-laki di antara kalian, tapi dia sebenarnya adalah Rasul Allah dan tidak hanya Rasul Allah melainkan Khaataman Nabiyyiin yakni nabi yang paling afdol di antara seluruh nabi dan secara rohani beliau adalah bapak dari seluruh nabiâ. Keberatannya apa? Bahwa Rasulullah bukanlah bapak tidak mempunyai anak, memang dia bukanlah ayah dari siapapun tapi dia adalah ayah dari seluruh nabi. Coba kita lihat bagaimana para penentang kita menterjemahkan ayat tadi; bahwa Rasulullah saw bukanlah bapak dari salah seorang laki-laki diantara kalian, tapi Rasul Allah dan nabi terakhir tidak ada nabi yang akan datang setelah beliau. Jadi sebagaimana telah saya jelaskan bahwa disini maksudnya adalah keutamaan atau keunggulan. Tapi dengan penerjemahan dari para penentang kita, maka tidak kita temukan kemuliaan atau keunggulan nabi kita. Sebab dengan menjadi nabi terakhir maka tidak ada makna atau kegunaan yang menjadi keutamaan beliau, bahkan jika kita lihat di satu sisi ini menjadi suatu penghinaan. Kita harus lihat bahwa kenabian itu suatu nikmat dari Allah Taâala atau suatu hukuman? Kalau ini merupakan hukuman maka yang akan menghilangkannya itu tentu yang termulia, tapi jika kenabian itu anugerah dari Allah Taâala maka yang menghabiskan itu bukan yang termulia. Sebab hanya dengan meneruskan karunia-karunia Allah Taâala itulah yang merupakan suatu kemuliaan atau keutamaan. Hal berikutnya ialah bahwa para penentang kita menterjemahkan bahwa Huzur saw adalah nabi terakhir dan setelah beliau tidak ada nabi lagi yang datang, tapi bersama dengan itu juga mereka meyakini bahwa nabi Isa as akan datang untuk kedua kali ke dunia ini. Jadi apakah perkataan mereka yang benar itu yang pertama atau yang terakhir? Kalau Nabi Muhammad saw yang terakhir maka tentunya Nabi Isa as tidak boleh datang, kalau Nabi Isa as akan datang maka Nabi Muhammad saw berarti bukan yang terakhir. Jadi dari sisi pemaknaan mereka pun mengingkari Khataman Nabiyyiin, jadi Jemaat Ahmadiyah tidak mengingkari Khataman Nabiyyiin yaitu bahwa kita mengakui beliau adalah Khataman Nabiyyin yang berarti beliau adalah Nabi yang termulia dari semua nabi. Sedangkan pengertiaan yang dikemukakan para penentang kita akal pun tidak bisa menerimanya, bahwa sejak dari dahulu kala jika di dunia telah terjadi kerusakan maka untuk menyembuhkan penyakit itu Allah Taâala mengirimkan nabi-nabi dan sesuai sunahNya Allah Taâala berfirman; Lantajida fisunnati tabdiila artinya kamu tidak akan menemukan perubahan dalam sunnah Allah Taâala. Kita tidak akan mungkin menerima suatu kenyataan bahwa jika Allah swt berfirman bahwa Allah Taâala tidak merubah sunahNya dan kita menyaksikan bahwa di dunia ini telah terjadi kerusakan dan seluruh dunia seakan menyatakan bahwa dunia membutuhkan seorang pembaharu bahkan para penentang kita pun mengakui kenyataan demikian tapi herannya mereka mengingkari kenabian. Jadi hal ini semisal seseorang yang mendirikan rumah sakit di mana para pasien akan masuk tetapi pihak rumah sakit mengumumkan bahwa dokter tidak ada di rumah sakit itu, maka orang yang berakal manayang akan bisa mengatakan bahwa yang mendirikan rumah sakit ini benar? karena apa manfaat rumah sakit ini? ketika untuk manusia kita tidak dapat memikirkan hal yang bodoh seperti itu, maka bagaimana kita akan bisa melakukan suatu penghinaan kepada Allah Taâala seperti itu? Jadi mari kita perhatikan bagaimana Jemaat Ahmadiyah telah mengartikan Khataman Nabiyyiin itu, apakah loghat Arab mendukungnya? Maka jika kita lihat dari sisi loghat makna Khatam digunakan untuk dua hal, yang pertama dimaknai cincin. Kenapa kita menggunakan cincin? Cincin adalah untuk keindahan, karena orang yang menggunakan cincin akan terlihat indah. Dari sini pengertian Jemaat Ahmadiyah itu benar bahwa semua keindahan para nabi berada pada diri Rasulullah saw. Makna kedua dari Khatam adalah cap, ini pun diambil dari cincin karena pada zaman dahulu cincin lah yang dijadikan alat untuk mencap dan Rasulullah memiliki cincin dan menggunakannya untuk mencap dan para penentang kita pun menyebarkan mengenai cincin tersebut di dalam percetakan mereka. Banyak sekali gambar-gambar terkait cincin tesebut, yang jika kita lihat pada cincin itu ada kata Muhammad dan ada kata Rasul kemudian di atasnya lagi kata Allah. Beliau saw suka mencapkan cincin ini pada akhir surat beliau. Dari sini kita bisa lihat bahwa apa arti dari cap tersebut? Bahwa difirmankan; Muhammad saw bukanlah bapak dari salah seorang laki-laki di antara kamu melainkan dia adalah Rasul Allah dan Khataman Nabiyyiin. Lalu kenapa kita maknakan cap? Ada dua penyebabnya. Yaitu ketika kita menulis surat maka untuk mengesahkannya dengan cap, pemberian cap pada surat itu untuk mensyahkan bahwa kita menyetujui apa-apa yang tertulis di surat itu. Maka apa arti Khataman Nabiyyiin ? Yaitu bahwa Nabi Muhammad saw adalah Nabi yang membenarkan semua nabi sebelum beliau; mushoddiqon bainakum yakni bahwa Nabi inilah yang mengesahkan semua nabi-nabi sebelum beliau dan ini artinya juga suatu keutamaan. Jadi bukan beliau saja sebagai nabi tetapi nabi-nabi sebelum beliau pun memerlukan pengesahan dari belaiu saw, yaitu bahwa orang-orang di masa yang akan datang akan menerima nabi-nabi itu setelah disahkan oleh Rasulullah saw. Kalau Nabi Muhammad saw tidak mengatakan ini kepada kita, bahwa nabi-nabi sebelum beliau seperti Nabi Adam, Nabi nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa Alaihimussalam, jika beliau tidak mengatakan bahwa mereka itu nabi, maka kita tidak akan beriman kepada beliau-beliau itu? tapi Nabi Muhammad saw mengesahkan mereka. Jadi bahwa dari sisi ini beliau saw Nabi yang mengesahkan nabi-nabi sebelum beliau maka beliau dikatakan Khaataman Nabiyyiin. Cap digunakan juga untuk maksud yang lain sebagaimana di kantor pos cap pun digunakan, begitu juga di Bank digunakan cap. Apa maksudnya? Jika tuan memberikan surat ke kantor pos maka penjaga pos memberikan cap pada surat tersebut dan apa maksudnnya? Bahwa surat ini kan diteruskan kepada siapa surat itu dimaksudkan. Demikian juga jika kita mengajukan surat dengan cap ini ke Bank maka apa yang menjadi pengajuan, maka Bank akan membayarkannya. Maka apakah arti Khataman Nabiyyiin dari sisi ini? bahwa Nabi Muhammad saw dengan mengenakan cap Khataman Nabiyyiin maka beliau akan meneruskan terbukanya silsilah kenabian yaitu bahwa hanya nabi yang memiliki cap beliau lah yang dapat menjadi nabi, sebagai umat beliau lah yang akan menjadi nabi, yang taat mengikuti beliau dan menjalankan syariat beliau. Dari sisi ini maka Jemaat Ahmadiyah lah yang benar sehingga menunjukan keagungan beliau saw yaitu bahwa wujud tersebut bukan hanya nabi tetapi juga mampu menjadikan orang yang mengikuti beliau mencapai kedudukan itu. Seorang guru yang benar adalah ketika dia mampu membimbing muridnya menjadi guru dan guru yang tidak benar adalah guru yang tidak mampu membawa kemajuan bagi murid-muridnya, sedangkan umat nabi muhammad saw adalah umat yang bisa sampai kepada taraf kenabian. Jadi dari sisi ini maka Huzur saw bukan hanya nabi yang mensyahkan nabi-nabi sebelumnya bahkan nabi-nabi yang akan datangpun harus dari mereka yang mengikuti beliau. Sekarang kita melihat bahwa apakah beliau saw juga telah mengartikan makna demikian ini? Maka kita menemukan berbagai macam penggunaan di dalam hadits. Huzur bersabda âAku adalah akhirul anbiya dan mesjidku adalah akhir dari mesjidâ. Apakah setelah Mesjid Nabawi yang beliau dirikan maka tidak ada lagi mesjid yang boleh didirikan? Dan di tempat lain beliau bersabda mengenai putra beliau Hazrat Ibrahim bahwa âjika putra ini tetap hidup maka ia akan menjadi nabi yang benarâ. Sebelum wafat anak beliau ini, ayat khataman nabiyyiin telah turun dan beliau memahami tentang ayat khataman nabiyyiin. Beliau memahami bahwa ayat ini tidak akan menghalangi kedatangn nabi-nabi di masa yang akan datang. Kemudian oleh karena itu maka beliau mengatakan jika anak ini hidup maka dia akan menjadi nabi yang benar. Sebagian orang mengajukan keberatan, katanya Allah Taâala mewafatkan Ibrahim putra Rasulullah saw pada usia muda karena tidak boleh ada nabi lagi setelah Rasulullah saw. Jika ini benar maka Rasulullah saw akan bersabda bahwa kalau dia tetap hidup dia tidak akan menjadi nabi sebab ayat khataman nabiyyiin telah turun, tetapi Huzur tidak bersabda demikian melainkan jika dia hidup maka dia akan menjadi nabi. Demikian juga ada lagi riwayat lain dari Huzur saw bahwa âjika saya tidak menjadi nabi maka umar akan menjadi nabiâ. Jadi semua hadits ini mengisyaratkan bahwa beliau tidak memahami pengertian khataman nabiyyiin sebagaimana yang difahami oleh para penentang kita, dan juga ada sabda dari Hazrat Aisyah ra bahwa âkullu innahu khaatamul anbiyya-u walaa takuulu laa nabiyya baâdahâ yakni âkatakanlah bahwa Nabi Muhammad saw adalah khatamul anbiya tetapi jangan kamu katakan bahwa setelah beliau tidak ada nabi yang datangâ. Begitu juga dalam umat Islam banyak sekali orang-orang suci yang mengetahui akan berlangsungnya kenabian. Diantaranya Hazrat Imam Malik, Imam Bukhari, Imam As-Syaârani, Imam Muhyiddiin Ibnu Arabi; ini hanya beberapa contoh dari sekian banyak nama-nama lain, dan sangat jelas tertulis dalam kitab-kitab mereka bahwa ayat khataman nabiyyiin tidak menutup pintu kedatangan para nabi. Selain itu yang mulia Rasulullah saw bersabda ulama fii ummati kaanbiya bani israil, jika pemahaman akan nabi telah tertutup maka tentu beliau tidak akan berkata demikian. Jadi umat dari seorang rasul jika seperti seorang nabi kedudukannya, maka bagaimana mungkin dalam umat itu tidak akan ada nabi? Semua umat Islam di dunia ini sekurang-kurangnya 20 sampai 25 kali dalam sehari senantiasa berdoâa; ihdinash-shiratal mustaqiim shiratal ladziina anâamta alaihim. Ya Allah tunjukilah kami jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang yang pada mereka telah turun karunia-karuniamu. Karunia apa yang telah turun kepada mereka? Al-Quran Karim telah mengatakan kepada kita bahwa dari antara nikmat-nikmat Allah Taâala yang paling tinggi adalah kenabian. Sebagaimana Allah Taâala berfirman bahwa Allah Taâala telah memberikan nikmat kepada mereka dan menjadikan mereka dari antara para nabi, dari antara para shidiq, dari antara shahid dan dari shalihiin. Jika para penentang kita mengakui bahwa kenabian sudah tidak berlangsung lagi, maka mereka berdoa untuk memperoleh nikmat yang mana? Jadi jika nikmat kenabian sudah tertutup maka semua nikmat pun akan habis karena nikmat yang Allah Taâala sebut itu berada dalam satu ayat yang sama yaitu kenabian, keshiddiqan, kesyahidan, keshalehan, jika tiga nikmat ini masih ada maka nikmat yang ke-empatnya pun masih boleh didapat, tapi kalau satu tertutup maka semuanya harus tertutup. Dari sini kita mengambil satu misal lagi, jika kata khatamun nabiyyiin digunakan untuk Rasulullah saw dan untuk mesjid pun dikatakan akhirul masajid, untuk Sayyiidina Ali pun digunakan khatamul Auliya, Mutanabi pun dikatakan khatamus Syuâara, Ibnu Shina juga dikatakan khatamul at-Tibaâ, jika semua pernyataan itu menggunakan kata yang sama maka pasti terjemahannya pun sama. Jika kata khataman digunakan sebagai penutup maka semuanya memiliki arti demikian, sehingga kesimpulan yang akan muncul adalah dari umat Rasulullah saw tidak akan ada nabi yang bisa datang, tidak juga shidiq, syahid atau shalih. Tidak ada lagi Wali dalam Islam, tidak ada juga penyair dalam umat Islam, tidak juga ada Tabib dalam umat Islam, juga tidak ada mesjid yang didirikan lagi. Lalu pertanyaannya apa gunanya umat seperti itu? Karena kan terjemahannya harus sama. dimana letak keutamaannya? Dari antara kita misalnya membeli bahan pakaian di toko itu pasti ada meteran untuk mengukur bahan pakaian, ukurannya pasti sama apakah itu untuk sutra atau katun dan yang lainnya. Tidak mungkin ukuran akan berbeda untuk sutra dan untuk yang lain. Demikian juga kata khatam itu harus satu apakah itu digunakan untuk Rasulullah, untuk Abu Shina atau untuk Hazrat Ali maka harus ditejemahkan satu pengertian tidak dapat diterjemahkan untuk Rasulullah lain, untuk Ibnu Shina lain dan untuk Hazrat Ali lain lagi. Oleh karena itu saudara-saudara kita harus memahami bahwa kata itu harus diterjemahkan sama disetiap tempat yang digunakan sehingga akan diakui oleh akal dan didukung oleh lughot, maknanya ialah bahwa Rasul Karim saw adalah nabi yang termulia dari semua nabi. Beliau mengesahkan semua nabi sebelum beliau dan juga akan membuka pintu kenabian melalui beliau di masa yang akan datang. Nabi-nabi yang terdahulu memerlukan pengesahan beliau dan juga nabi yang akan datang membutuhkan mengikuti beliau. Mesjid nabawi adalah masjid termulia dari semua mesjid, Hazrat Ali adalah yang termulia dari para wali, Mutanabi yang tertinggi dari para penyair, Ibnu Shina juga tertinggi dari para Tabib, maka tidak ada yang akan menentang pengertian seperti itu. Jadi kata khatam digunakan untuk menyatakan sesuatu sampai kepada tahapnya yang tertinggi, yakni digunakan untuk menunjukan kesempurnaan dan hal ini juga digunakan di berbagai bahasa. Hal ini telah khatam dalam diri seseorang yang berarti bahwa tidak ada seseorang yang melebihi perkataannya tapi hanya pengertian bahwa dia telah memulai dan mengatakan itu pada tahap yang terbaik. Jadi Nabi Muhammad saw telah menyampaikan pada tahap kenabian yang tertinggi dan inilah aqidah dari Ahmadiyah bahwa Hazrat Rasulullah saw adalah khataman nabiyyin. [Tn Hafidz] Tafsir Khataman Nabiyyin Materi Refresher Course Mubalighin 2017 disampaikan oleh Mln Laiq Ahmad Shd Artikel selanjutnya tentang Tafsir Khataman Nabiyyin
ARTI KHATAM DALAM AYAT KHATAMAN â NABIYYIN Rate This ARTI KHATAM DALAM AYAT KHATAMAN â NABIYYIN Ayat KS Aquran Quran Suci/QS Surat Al Ahzab 3340 Aâudzubillah himinasy-syaithan âŚâŚ Maa kaana Muhammadun abaa ahadin minr rijaalikum wa laakinr rosuuulal laahi wa khaatamannabiyyin Yang artinya Muhammad bukanlah Bapak dari seorang laki-laki kamu, tetapi ia adalah seorang Rasul dan Khaataman Nabiyyin, khatam-nya dari para nabi-nabi. Ayat Khataman-Nabiyyin ini diturunkan di dalam rangkaian pembelaan dari Allah SWT kepada YM. Nabi Suci Muhammad Rasulullah atas tuduhan orang Arab Quraisy , bahwa pernikahan Rasulullah dengan Hadhrat Siti Zainab, janda dari Zaid âanak angkatâ Rasulullah yang dituduh mengawini janda menantunya sendiri. Tuhan menjawab cemoohan orang Quraisy terhadap Rasulullah yang melanggar tradisi berlaku pada saat itu yang tidak membolehkan orang mengawini janda bekas menantunya walaupun dari anak angkatnya, yang kedudukan anak angkat itu menurut adat kebiasaan orang Quraisy disamakan statusnya dengan anak sendiri. Pada saat diturunkannya wahyu tentang Khaataman Nabiyyin tersebut, tidak pernah terpikir waktu itu oleh para sahabat Rasulullah bahwa khatam itu diartikan sebagai penutup untuk nabi-nabi, ini adalah berdasarkan keterangan dari YM. Rasulullah sendiri. Apalagi jika kita membaca keseluruhan ayat-ayat yang ada di dalam Rukuk ke-5 dari Surah Al Ahzaab ini bahkan di keseluruhan Surah al Ahzaab pun tidak ada disinggung satu pun indikasi yang berkenaan dengan inniy aakhirul-anbiyaâ atau laa nabiyya baâdi; tetapi yang ada disebutkan di dalam surah ini Al Ahzaab ini adalah Jangan engkau mengikuti kebiasaan orang-orang kafir dan orang munafik ayat 1, dalam hal status anak angkat dll., menjadikan istri-istrimu sebagai ibu dan anak-anak angkatmu sebagai anak sendiri ayat 4, tetapi panggillah anak ini dengan nama bapak mereka ayat 5, dan Kami pun mengatur pernikahan engkau dengan Zainab, yang janda dari Zaid anak angkat engkau itu; di mana sama sekali tidak ada sesuatu pun yang akan mencemarkan nama engkau, di mana engkau adalah Khaataman Nabiyyin. Selain yang artinya penutup yaitu khatim ada banyak arti dari kata Khatam yaitu Cincin, perhiasan bagi yang memakainya, meterai, segel, yang membenarkan, yang paling afdhal, yang paling mulia, yang terbaik, sebagai pujian terutama kalau dikaitkan dengan kata benda plural / jamak, dan hanya sebagai penutup khatim, terutama kalau dikaitkan dengan kata benda singular. Dalam tata bahasa Arab, kata Khaatam jika digandeng dengan kata jamak maka artinya bukan lagi terakhir atau penutup melainkan yang paling sempurna, paling afdhal. Contohnya 1. Nabi bersabda kepada Hadhrat Ali Aku adalah khatam dari nabi-nabi dan engkau wahai Ali adalah khatamul aulia khatam dari Wali-wali Tafsir Safi & Jalandari, benarkan Ali penghabisan dari wali-wali? Tentu bukan, karena di sini diartikan bahwa Hadhrat Ali sebagai yang paling mulia di antara wali-wali. 2. Imam Safiâi 767-820 juga disebut âkhaatam-ul auliyaâ Al Tuhfatus-Sunniyya, hal. 45. 3. Rasulullah berkata kepada Umar Tenteramkanlah hatimu hai Umar, sesunguhnya engkau adalah khatamul Muhajjirin sahabat yang mengikuti pindah ke Medinah yang paling afdhal di dalam kepindahan ini, seperti aku khataman nabiyyin dalam kenabian. Kanzul Umal. 4. Dalam zaman-zaman berikutnya, kata khatam juga dipakai dalam arti sebagai yang paling nge-top mulia 5. Imam Syech Muhammad Abdul dari Mesir ditulis sebagai Khatam Al-Aâimmah; Imam/Pemimpin agama Tafsir Al-Fatihah halaman 148. Apakah tidak ada imam lainnya setelah Muhammad Abduh? 6. Abu Tamaam At-Ta-i 804-805 ditulis oleh Hasan ibnu Wahab sebagai Khatimus-syuara Ahli syair. Dafiyaatul Aâayaan, vol. 1 hal 123, Kairo. Apakah setelah Abu Tamaam wafat tidak ada penyair lagi? 7. Untuk Syekh Rasyid Ali Ridha ditulis sebagai Khatamul Mufasysyiriin Al Jaamiâatul Islamiyah 1354 H. 8. Imam Suyuthi mendapat gelar khaatamu-ul- muhadditsin, ahli hadits Hadya Al-Shiah, hal. 210. 9. Aflatun ditulis sebagai Khatamul Hakim Mirtusuruh hal. 38, Khatam Al-Hukkam. 10. Tokoh-tokoh lainnya yang pernah ditulis/disebut sebagai Khatam Al-Kiram, Khatam Al-Wilayat Muqaddimah Ibnu Khaldun hal. 271, Khatam Al-Jasinaniyyat, Khatam Al-Kamilin, Khatam Al-Asfiya, dalam sebutan sebagai yang paling afdhal, yang terbaik pujian terhadap seseorang yang dikagumi. Arti kata Khatam sebagai penutup atau terakhir sebenarnya baru timbul di abad pertengahan, di mana ulama-ulama Medieval ini mulai mengartikan khataman nabiyyin itu sebagai nabi penutup dan nabi terakhir. Ada riwayat, bagaimana para ulama yang karena takutnya pada arti Khaatam sebagai yang paling afdhal, paling terbaik kalau digabungkan dengan kata benda jamak/plural , meterai, atau cincin, stempel, maka mereka dengan tidak takut-takutnya mempengaruhi pemerintah melalui Departemen Wakaf-nya, untuk merobah Kitab Suci Alquran, yaitu dengan merobah tulisan kata khatam dengan merobah tulisannya dengan kata khatim dalam Alquran yang diterbitkan- nya. Ini terjadi di Afrika pada tahun 1987, dan ada yang menunjukkannya kepada kita. Mereka ingin mengartikan kata khatam itu sebagai penutup dengan kata khatim, yang mereka pikir punya hak untuk menggantinya. Ini adalah perbuatan yang nyata-nyata campur-tangan terhadap keaslian KS. Alquran, hanya karena mereka takut kepada Ahmadiyah. Inilah gambaran keliru yang amat mengerikan sebagai usaha mereka untuk menyelamatkan diri dari pengaruh pendapat orang Ahmadi, mengenai arti dari kata khatam ini. Kepercayaan tentang Nabi Muhammad adalah nabi terakhir memang pernah muncul dan sekarang kepercayaan yang demikian mestinya sudah lenyap kembali; kepercayaan mana adalah yang di-isukan oleh ulama dari zaman masa medieval pertengahan , bersamaan dengan kepercayaan bahwa, katanya Nabi Isa itu diangkat ke langit, dengan tubuh kasarnya dan akan turun kembali di akhir zaman. Tentang penggunaan kata khatam yang berarti termulia, tertinggi dan sebagainya dalam berbagai istilah dalam bahasa Arab lainnya dapat dilihat pada beberapa kata di bawah ini 1. KHATAM-USH-SHUâARAA seal of poets was used for the poet Abu Tamam. Wafiyatul Aâyan, vol. 1, p. 23, Cairo. 2. KHATAM-USH-SHUâARAA again, used for Abul Tayyeb. Muqaddama Deewanul Mutanabbi, Egyptian 3. KHATAM-USH-SHUâARAA again, used for Abul Ala Almeâry. ibid, footnote. 4. KHATAM-USH-SHUâARAA used for Shaikh Ali Huzain in India. Hayati Saâdi, p. 117. 5. KHATAM-USH-SHUâARAA used for Habeeb Shairaazi in Iran. Hayati Saâdi, p. 87 Note here that all five people have been given the above title. How could it be interpreted as âlastâ. They did not come and go at the exact same time. 6. KHATAM-AL-AULIYAA seal of saints for Hazrat Ali May God be pleased with him. Tafsir Safi, Chapter AlAhzab Can no other person now attain wilaayat, if âsealâ meant last? 7. KHATAM-AL-AULIYAA used for Imam Shafâee. Al Tuhfatus Sunniyya, p. 45. 8. KHATAM-AL-AULIYAA used for Shaikh Ibnul Arabee. Fatoohati Makkiyyah, on title page. 9. KHATAM-AL-KARAAM seal of remedies used for camphor. Sharah Deewanul Mutanabbee, p. 304 Has no medicine been found or used after camphor, if âsealâ means âlastâ? 10. KHATAM-AL-AâIMMAH seal of religious leaders used for Imam Muhammad Abdah of Egypt. Tafseer Alfatehah, p. 148 Donât we have leaders today? 11. KHATAM-ATUL-MUJAHIDEEN seal of crusaders for AlSayyad Ahmad Sanosi. Akhbar AlJamiâatul Islamiyyah, Palestine, 27 Muharram, 1352 12. KHATAM-ATUL-ULAMAA-ALMUHAQQIQEEN seal of research scholars used for Ahmad Bin Idrees. AlâAqadun Nafees 13. KHATAM-ATUL-MUHAQQIQEEN seal of researchers for Abul Fazl Aloosi. on the title page of the Commentary Roohul Maâaanee 14. KHATAM-AL-MUHAQQIQEEN used for Shaikh AlAzhar Saleem Al Bashree. Al Haraab, p. 372 15. KHATAM-ATUL-MUHAQQIQEEN used for Imam Siyotee. Title page of Tafseerul Taqaan 16KHATAM-AL-MUHADDITHEEN seal of narrators for Hazrat Shah Waliyyullah of Delhi. âIjaalah Naafiâah, vol. 1 17. KHATAMAT-AL-HUFFAAZ seal of custodians for AlShaikh Shamsuddin. AlTajreedul Sareeh Muqaddimah, p. 4 A âhafizâ is one who has memorised the full arabic text of the Holy Quran. Two of my cousins happen to belong to this category and more people will memorize it. 18. KHATAM-AL-AULIA seal of saints used for the greatest saint. Tazkiratul Auliyaaâ, p. 422 19. KHATAM-AL-AULIA used for a saint who completes stages of progress. Fatoohul Ghaib, p. 43 20. KHATAM-ATUL-FUQAHAA seal of jurists used for Al Shaikh Najeet. Akhbaar Siraatal Mustaqeem Yaafaa, 27 Rajab, 1354 21. KHATAM-AL-MUFASSIREEN seal of commentators or exegetes for Shaikh Rasheed Raza. Al Jaamiâatul Islamia, 9 Jamadiy thaani, 1354 22. KHATAM-ATUL-FUQAHAA used for Shaikh Abdul Haque. Tafseerul Akleel, title page 23. KHATAM-ATUL-MUHAQQIQEEN seal of researchers for Al Shaikh Muhammad Najeet. Al Islam Asr Shiâbaan, 1354 24. KHATAM-AL-WALAAYAT seal of sainthood for best saint. Muqaddimah Ibne Khuldoon, p. 271 25. KHATAM-AL-MUHADDITHEEN WAL MUFASSIREEN seal of narrators and commentators used for Shah Abdul Azeez. Hadiyyatul Shiâah, p. 4 26. KHATAM-AL-MAKHLOOQAAT AL-JISMAANIYYAH seal of bodily creatures used for the human being. Tafseer Kabeer, vol. 2, p. 22, published in Egypt 27. KHATAM-ATUL-HUFFAAZ used for Shaikh Muhammad Abdullah. Al Rasaail Naadirah, p. 30 28. KHATAM-ATUL-MUHAQQIQEEN used for Allaama Saâduddeen Taftaazaani. Sharaâ Hadeethul Arbaâeen, p. 1 29. KHATAM-ATUL-HUFFAAZ used for Ibn Hajrul Asqalaani. Tabqaatul Madlaseen, title page 30. KHATAM-AL-MUFASSIREEN seal of commentators used for Maulvi Muhammad Qaasim. Israare Quraani, title page 31. KHATAM-AL-MUHADDITHEEN seal of narrators used for Imam Siyotee. Hadiyyatul Sheeâah, p. 210 32. KHATAM-AL-HUKKAAM seal of rulers used for kings. Hujjatul Islam, p. 35 33. KHATAM-AL-KAAMILEEN seal of the perfect used for the Holy Prophet pbuh. Hujjatul Islam, p. 35 34. KHATAM-AL-MARAATAB seal of statuses for status of humanity. âIlmul Kitaab, p. 140 We have the âhighest, not âlastâ status. 35. KHATAM-AL-KAMAALAAT seal of miracles for the Holy Prophet pbuh. ibid, p. 140 36. KHATAM-AL-ASFIYAA AL AâIMMAH seal of mystics of the nation for Jesus peace be on him. Baqiyyatul Mutaqaddimeen, p. 184 37. KHATAM-AL-AUSIYAA seal of advisers for Hazrat Ali Minar Al Hudaa, p. 106 38. KHATAM-AL-MUâALLIMEEN seal of teachers/scholars used for the Holy Prophetpbuh. Alsiraatul Sawee by Allama Muhammad Sabtain Now, I am a teacher myself, and you know that I still exist, AFTER the Holy Prophet pbuh, but I am nowhere close to being able to teach as PERFECTLY as he could or did. How then could he be âlastâ of teacher Seal means âbestâ here and not âlastâ. 39. KHATAM-AL-MUHADDITHEEN seal of narrators for Al Shaikhul Sadooq. Kitaab Man Laa Yahdarahul Faqeeh 40. KHATAM-AL-MUHADDITHEEN used for Maulvi Anwar Shah of Kashmir. Kitaab Raeesul Ahrar, p. 99 Pendapat lainnya tentang masih berlanjutnya pintu Kenabian dalam Islam dapat dilihat dari berbagai hadits dan ulama berikut ini 1. âKatakanlah bahwa beliau Rasulullah adalah Khataman Nabiyyin, tetapi janganlah mengatakan tidak akan ada nabi lagi sesudah beliauâ lihat Durr Mantsur oleh Hafizh Jalal-ud-Din `Abdur Rahman Sayuthi. 2. âKatakanlah, sesungguhnya ia [Muhammad] adalah khaatamul-anbiyaâ, tetapi jangan sekali-kali kamu mengatakan laa nabiyya baâdahu tidak ada Nabi sesudahnyaâ Durrun Mantsur, jld. V, hlm. 204; Takmilah Majmaul Bihar, 3. Rasulullah adalah yang terbaik, termulia, dan paling sempurna dari antara semua nabi dan juga beliau adalah sumber hiasan bagi mereka lihat Syarh Zurqani oleh Imam Muhammad ibn `Abdul Baqi al-Zurqani, dan Syarah Mawahib al-Laduniyyah oleh Syihab-ud-Din Ahmad Qastalani. 4. Berkata Sheikh Muhyiddin Ibnu Arabi âMaksud sabda Nabi Muhammad SAW sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah terputus dan tidak ada lagi rasul dan nabi sesudahku, ialah tidak akan ada nabi yang membawa syariat yang akan menentang syariat aku. Maka tidaklah nubuwat itu terangkat seluruhnya. Karena itu kami mengatakan sesungguhnya yang terangkat ialah nubuwat tasyriâi kenabian yang pakai syariat, maka inilah maâna tidak ada nabi sesudah beliauâ.Futuhatul Makkiyah, jilid II halaman 73. Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi dalam kitabnya Futuuhatul Makiyyah menulis âInilah arti dari sabda Rasulullah âSesungguhnya risalah dan nubuwat sudah terputus, maka tidak ada Rasul dan Nabi yang datang sesudahku yang bertentangan dengan Syariâatku. Apabila ia datang, ia akan ada di bawah Syariâatku.â Futuuhatul Makiyyah, Ibnu Arabi, Darul Kutubil Arabiyyah Alkubra, Mesir, jld II, hlm. 3 Imam Muhammad Thahir Al-Gujarati berkata âIni tidaklah bertentangan dengan hadits tidak ada nabi sesudahku, karena yang dimaksudkan ialah tidak akan ada lagi nabi yang akan mebatalkan syariat beliauââŚ.Takmilah Majmaul Bihar, halaman 85. 5. Mulla Ali Al-Qari berkata âMaka tidaklah hal itu bertentangan dengan ayat âkhaatamannabiyinâ karena yang dimaksudkan ialah tidak akan ada lagi nabi yang akan membatalkan agama beliau dan nabi yang bukan dari umat beliauââŚ.. .Maudhuat Kabir, halaman 59. 6. Nawwab Siddiq Hasan Khan menulis âBenar ada hadist yang berbunyi âla nabiyya baâdiâ artinya menurut pendapat ahli ilmu pengetahuan ialah bahwa sesudahku tidak akan ada lagi nabi yang menasikhkan/ membatalkan syariatkuâ.. âŚIqtirabussaâ ah, halaman 162. 7. Imam Syaârani berkataâDan sabda Nabi Muhammad SAW, tidak ada nabi dan rasul sesudahku, adalah maksudnya tidak ada lagi nabi sesudah aku yang membawa syariatââŚ. Al-Yawaqit wal Jawahir, jilid II halaman 42. 8. Arif Rabbani Sayyid Abdul Karim Jaelani berkataâMaka terputuslah undang-undang syariat sesudah beliau dan adalah Nabi Muhammad SAW khaatamannabiyyinâ âŚ..Al- Insanul Kamil halaman 66. 9. Sayyid Waliuyullah Muhaddist Al-Dahlawi berkataâ Dan khaatamlah nabi-nabi dengan kedatangan beliau, artinya tidak akan ada lagi orang yang akan diutus Allah membawa syariat untuk manusiaââŚ. Tafhimati Ilahiyah, halaman 53. 10. Imam Suyuti berkata âBarang siapa yang mengatakan bahwa Nabi Isa apabila turun nanti pangkatnya sebagai Nabi akan dicabut, maka kafirlah ia sebenar-benarnya. Maka dia Isa yang dijanjikan sekalipun ia menjadi khalifah dalam umat Nabi Muhammad SAW, namun ia tetap berpangkat rasul dan nabi yang mulia sebagaimana semulaââŚ..Hujajul Kiramah , halaman 31 dan 426. 11. Imam Abdul Wahab Asy-Syarani berkata âDan sabda Nabi âtidak ada Nabi dan Rasul sesudah aku, adalah maksudnya tidak ada lagi Nabi sesudah aku yang membawa Syariâat.â Al-Yawaqit wal Jawahir, jld. II, hlm. 42. 12. Imam Thahir Al Gujrati berkata âIni tidaklah bertentangan dengan Hadits tidak ada Nabi sesudahku, karena yang dimaksudkan ialah tidak akan ada lagi Nabi yang akan membatalkan Syariâat beliau.â Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 85. 13. Imam mazhab Hanafi yang terkenal, yaitu Mulla Ali al-Qari menjelaskan âJika Ibrahim hidup dan menjadi Nabi, demikian pula Umar menjadi Nabi, maka mereka merupakan pengikut atau ummati Rasulullah Seperti halnya Isa, Khidir, dan Ilyas alaihimus salaam. Hal itu tidak bertentangan dengan ayat Khaataman-Nabiyyiin . Sebab, ayat itu hanya berarti bahwa sekarang, sesudah Rasulullah tidak dapat lagi datang Nabi lain yang membatalkan Syariâat beliau dan bukan ummati beliau Maudhuâaat Kabiir, hlm. 69. 14. Peristiwa wafatnya Ibrahim putera Rasulullah dari Maria Qibtiyah tercatat sebagai berikut Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, berkatalah ia âKetika Ibrahim ibnu Rasulullah wafat, beliau menyembahyangkan jenazahnya dan berkata, âSesungguhnya di sorga ada yang menyusukannya, dan kalau usianya panjang, ia akan menjadi nabi yang benar.â Sunan Ibnu Majah, Abu Abdillah Alqazwaini, Darul Fikr, jld. II, hlm. 484, Hadits no. 1511.Peristiwa wafatnya Ibrahim terjadi pada tahun 9 H, sedangkan ayat âkhaataman-nabiyyiinâ diturunkan pada tahun 5 H. Jadi, ucapan beliau mengenai Ibrahim sebagaimana ditemukan dalam Hadits itu adalah 4 tahun kemudian setelah beliau menerima ayat âkhaataman-nabiyyiin.â Jika ayat âkhaataman-nabiyyii nâ diartikan sebagai âpenutup / sesudahan / penghabisan /akhirâ nabi-nabi yaitu tidak boleh ada nabi lagi apa pun juga setelah beliau maka seharusnya beliau mengatakan jikalau usianya panjang, tentu ia tidak akan pernah menjadi nabi karena akulah penutup nabi-nabi. Nabi yang menerima wahyu, jadi beliaulah yang paling mengetahui arti/makna wahyu yang diterimanya. 15. Dalam Kitab Nuzulul Masih, Imam Jalaluddin Assuyuti rh Mujaddid abad IX menyatakan bahwa hadis-hadis yang menyatakan bahwa tidak ada lagi wahyu setelah nabi Muhammad saw adalah Palsu. Kini pertanyaannya adalah apakah ada Ulama Salaf yang menafsirkan kalimat âKhaataman Nabiyyinâ dalam Al Qurâan dengan mengikuti kaidah tata bahasa Arab di atas? Mengingat tafsir yang dipopulerkan oleh para Ulama saat ini terhadap kalimat Khaataman Nabiyyin yang didasarkan atas klaim ijmaâ seluruh Ulama adalah penutup para Nabi dalam arti tiada lagi akan ada Nabi yang diutus oleh Allah SWT. Berikut adalah penafsiran dari beberapa Ulama Salaf 1. Umayyah bin Abi Salt dlm Kitab Diwan hal 24 menulis mengenai Khaataman nabiyin âDengannya Rasulullah saw telah dicap/stempel para nabi sebelum maupun sesudahnyaâ. 2. Abu Ubaidah wafat 209 H ketika mengomentari Khair Al Khawatim dlm Naqaâid ibn Jarir dan Faradzaq tentang rasulullahsaw sebagai khaataman nabiyyin âNabi saw adalah Khaatam al Anbiya, yaitu sebaik-baik para nabiâ. 3. Abu Riyash Ahmad Ibrahim Al Qaisi wafat 339 H dlm mengomentari kitab Hasyimiyyat karangan Al Kumait berkata âBarang siapa mengatakan Khaatim al anbiya, maka ia adalah dengannya para nabi di cap/stempel, dan barang siapa yg mengatakan Khaatam al anbiya, maka ia adalah sebaik-baik para nabi. Dikatakanâ Fulan khaatam kaumnyaâ, yakni ia adalah terbaik dari antara merekaâ. 4. Allamah Al Zarqani menulis dlm Syarah Al Mawahib Al Laduniyah Juz III, hal 163, bahwa jika khatam dibaca dengan baris di atas ta sebagaimana tersebut dlm Al Qurâan al ahzab 40, maka artinya âsebaik-baik para nabi dlm hal kejadian dan dalam hal akhlakâ. 5. Imam Mulla Ali al Qari menulis dlm kitabnya Al Maudhuâat tentang Khaatam Al Nabiyyin âTidak akan datang lagi sembarang nabi yg akan memasukkan agama Islam dan yg bukan dari umat beliauâ. 6. Syekh Abdul Qadir Al Jaelani dlm Kitab â Al Insanul Kamilâ cetakan Mesir, bab 33, hal 76 menulis âKenabian yg mengandung syaâriat baru sudah putus. Nabi Muhammad adalah âKhaataman nabiyyinâ, ialah karena beliau telah membawa syariâat yg sudah sempurna dan tiada ada seorang Nabi pun dahulunya yg membawa syariat yg begitu sempurnaâ. 7. Ibnu Khuldun telah menulis dalam mukadimah tarikh-nya hal 271 âBahwa ulama-ulama Tasawuf mengartikan âKhaataman Nabiyyinâ begini; yakni Nabi yg sudah mendapat kenabian yg sempurna dalam segala halâ. 8. Syekh Abdul Qadir Al Karostistani menulis â Adanya beliau saw Khaataman nabiyyin maknanya ialah sesudah beliau tidak akan ada nabi diutus dengan membawa syariat lainâ. Taqribul Muram, jld 2, hal 233. 9. Hazrat Sufi Muhyidin Ibn Arabi menulis âNubuwat dan Risalah Tasyriâi pembawa Syariat telah tertutup, oleh karena itu sesudah Rasulullah saw tidak akan ada lagi Nabi pembawa/penyandang SyariâatâŚ.kecuali demi kasih sayang Allah untuk mereka akan diberlakukan Nubuwat umum yg tidak membawa syariatâ Fushushul Hakam, hal 140-141. Lagi beliau menulis dalam Futuhat al makiyyah Juz 2 â Berkata ia Yakni tidak ada Nabi sesudahku yg berada pada syariat yg menyalahi syariatku , Sebaliknya apabila nanti ada Nabi maka ia akan berada di bawah kekuasaan syariatkuâ. 10. Syekh Muhammad Thahir Gujarati menulis âSesungguhnya yg beliau kehendaki ialah tidak ada Nabi yg mengganti syariâat beliauâ. Takmilah Majmaâil Bihar, hal 85. 11. Siti Aisyah bersabda âHai, orang-orang kalian boleh mengatakan Khaatamul anbiya, tapi jangan mengatakan setelah beliau tidak ada lagi nabiâ. Tafsir Darul Mantsur Imam As Suyuthi, Jld V, 12. Hz. Abdul Wahab Syaârani Wafat 976H menulis âKetahuilah bahwa kenabian mutlak tidak tertutup, hanya kenabian syarâi yg membawa syariat yg telah tutupâ. Al Yawaqit wal Jawahir, jld 2, Dari keterangan di atas maka bisa disimpulkan bahwa penafsiran Khaataman Nabiyyin sebagai Penutup Kenabian jenis apapun bukanlah satu-satunya penafsiran. Para penafsiran Ulama Salaf di atas menerangkan bahwa 1. Khaatamun Nabiyyin adalah pangkat / derajat kenabian tertinggi tersempurna yang dikaruniai oleh Allah SWT kepada Rasulullah Muhammad saw. 2. Kesempurnaan ini juga terkait dengan nikmat syariat yang beliau bawa yaitu Islam. 3. Tidak ada Nabi lagi yang akan datang yang akan melampaui atau bahkan membatalkan kesempurnaan derajat dan syariat beliau Beliau saw penutup Kenabian Syarâi. 4. Tidak semua jenis kenabian tertutup, hanya kenabian yang membawa syariat yang tertutup. 5. Jika ada Nabi yang datang maka akan tunduk dalam syariat Islam dan berasal dari umatnya.
arti dari khataman nabiyyin adalah